Kamis, 16 Desember 2021

 

PENGARUH INFLASI TERHADAP HARGA KOMODITAS PERIKANAN DAN KELAUTAN DI INDONESIA

fadhil muhammad pujianto

 

PENDAHULUAN

Inflasi merupakan salah satu indikator perekonomian yang penting dan menarik, laju perubahannya selalu di upayakan rendah dan stabil agar tidak menimbulkan penyakit makroekonomi yang nantinya akan memberikan dampak ketidakstabilan dalam perekonomian. Inflasi yang tinggi dan tidak stabil merupakan cerminan akan kecenderungan naiknya tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus selama periode waktu tertentu.

Setiap negara pasti mengalami inflasi, inflasi yang terjadi dapat diakibatkan oleh faktor yang berbeda-beda. Oleh karena itu pemerintah harus mampu mengendalikan faktor-faktor penyebab inflasi tersebut. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan inflasi diantaranya faktor nilai tukar Rupiah terhadap US$, pengeluaran pemerintah dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Ferayanti,dkk, 2014).

    PEMBAHASAN

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 buah dan panjang garis pantai mencapai 104.000 km. Total luas laut Indonesia sekitar 3,544 juta km 2 atau sekitar 70% dari wilayah Indonesia. Karena itu, sebagian besar penduduknya memenuhi kebutuhannya melalui sektor perikanan, terutama masyarakat pesisir.

Letak Indonesia yang  sangat strategis dan berada di jalur pertemuan dua samudra besar sehingga memiliki keanekaragaman biota laut merupakan salah satu keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh negara lain. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat  menyumbangkan devisa negara dari sektor non migas yang diarahkan pada pasar ekspor memiliki produk andalannya udang dan ikan tuna. Sumber daya perikanan dan kelautan yang sangat besar dan permintaan yang tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan kesempatan untuk memperbaiki perekonomian negara.

Secara ekonomi, perubahan harga dapat disebabkan oleh jumlah penawaran (supply) dan permintaan (demand). Inflasi dari sisi permintaan (demand pull inflation) terjadi karena kenaikan permintaan total (agregat demand) yang berlebihan sementara produksi (supply) telah berada pada keadan kesempatan kerja yang penuh dan tidak mungkin meningkat lagi sehingga penambahan permintaan hanya akan menyebabkan terjadinya perubahan peningkatan harga.

"Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi yaitu ikan segar sebesar 0,08 persen," kata Suhariyanto di Jakarta.

Sebagaimana diketahui, kelompok bahan makanan pada Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 0,88 persen, dan kelompok ini pada berkontribusi inflasi sebesar 0,19 persen. Menurut dia, andil inflasi ikan segar antara lain karena pada periode tersebut kerap terjadi di cuaca buruk di wilayah Indonesia timur sehingga banyak nelayan tidak berani melaut sehingga terjadi kekurangan pasokan.

Sebagaimana diwartakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengharapkan tingkat konsumsi ikan di tengah masyarakat terus meningkat seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan hasil produksi perikanan Nusantara. "KKP memproyeksikan tingkat konsumsi ikan masyarakat akan terus meningkat dari sebelumnya 43 kg per kapita pada tahun 2017 dan diharapkan kembali meningkat menjadi 46 kg pada tahun 2018 ini," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto.

Menurut Slamet Soebjakto, tingkat konsumsi ikan pada tahun 2019 diharapkan dapat menjadi sebesar 54 kg per kapita per tahun. Dengan target tersebut, setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak 14,6 juta ton pada tahun 2019, namun hanya 6,18 juta ton di antaranya yang diperkirakan berasal dari hasil perikanan tangkap, sedangkan sisanya atau sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Vinny Azaria, A. I. (2019, Maret). PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR RUPIAH, DAN HARGA TERHADAP VOLUME EKSPOR INDONESIA KOMODITAS KELAUTAN DAN PERIKANAN MENURUT PROVINSI PERIODE TAHUN (2012-2014). MANAGERIAL ACCOUNTING, hal. 1-8.

Zuraya, N. (2018, Juli 3). BPS: Ikan Segar Ikut Beri Andil Terhadap Inflasi. Diambil kembali dari REPUBLIKA: https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/18/07/02/pb8usv383-bps-ikan-segar-ikut-beri-andil-terhadap-inflasi

 

Rabu, 15 Desember 2021

PERMINTAAN IKAN BANDENG

 PERMINTAAN IKAN BANDENG SKALA INTERNASIONAL 

(fadhil muhammad pujianto) 

PENDAHULUAN 

    Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang memegang peranan sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia. Salah satu subsektor pertanian adalah subsektor perikanan. Subsektor perikanan juga merupakan sektor yang berpotensi untuk menghasilkan dan dikembangkan karena Indonesia merupakan negara maritim atau kelautan yang wilayah perairannya lebih luas daripada daratannya yaitu mencapai 5,8 juta Km2 atau mendekati 70% dari luas keseluruhan negara Indonesia (Terangi, 2010) 

    Bandeng (Chanos-chanos sp.) merupakan salah satu produk perikanan yang dihasilkan sebagian besar dari hasil budidaya. Sejak tahun 2010 dan sejalan dengan program industrialisasi yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bandeng termasuk komoditas prioritas pengembangan dan telah ditentukan lokasi-lokasi industrialisasi bandeng. 

    Ikan bandeng ( chanos chanos ) merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat penting. Ikan bandeng memiliki nilai protein hewani yang lebih tinggi di bandingkan dengan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Sebab, protein hewani mengandung asam-asam amino yang lengkap dan susunan asam aminonya mendekati asam amino yang ada dalam tubuh manusia (Wijayanti dkk 2016). 

PEMBAHASAN 

    Bandeng (Chanos-chanos sp.) merupakan salah satu produk perikanan yang dihasilkan sebagian besar dari hasil budidaya. Sejak tahun 2010 dan sejalan dengan program industrialisasi yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bandeng termasuk komoditas prioritas pengembangan dan telah ditentukan lokasi-lokasi industrialisasi bandeng.  

    Potensi pasar luar negeri dapat di lihat pertama negara potensial pasar, kedua kriteria yang diminta pasar dan ketiga pesaing yang ada. Negara potensial pasar bandeng di luar negeri tersebar di Negara Rusia, Jepang, Singapura dan Timur Tengah. Kriteria ikan bandeng yang diekspor harus memiliki kriteria sisik bersih dan mengkilat, tidak berbau lumpur, kandungan asam lemak Omega-3 relatif tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak, dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food, dan ukurannya mencapai 600-800 g/ekor. Indonesia cukup berhasil dengan ekspor benih bandeng, sementara Taiwan dan China sukses dengan produksi olahan serta Philipina sebagai penghasil ikan bandeng segar dan olahan untuk pemenuhan pasar dalam negeri dan ekspor. 

    Namun demikian, sampai saat ini peluang pasar tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia karena berbagai kelemahan. Menurut Atjo dan Sahrun (2005), permasalahan tersebut karena belum terciptanya suatu sistem yang berorientasi agribisnis yang mampu menjamin keberlanjutan produksi mulai dari penyiapan benih dari panti benih, penggelondongan, pembesaran, panen, dan pemasaran sebagai upaya peningkatan efisiensi dalarn mengantisipasi pasar bebas. Pemenuhan benih yang bermutu, tepat waktu, jumlah, ukuran, harga, dan tempat belum terpenuhi akibat pantipanti benih tidak terdistribusi secara merata. Penataan ruang untuk budidaya laut belum dikelola secara baik dengan mengacu pada hasil kajian ilmiah yang kokoh dan profesional, ketersediaan informasi pasar yang belum akurat dan tepat waktu, khususnya untuk pasar domestik dan ekspor yang belum memadai. Yang tak kalah pentingnya yaitu kontinyuitas produksi, konsistensi mutu utamanya dalarn hal bobot, rasa, ukuran, dan penampilan fisik belum dipertahankan Pesaing pasar bandeng yang cukup kuat sampai saat ini yaitu negara Philipina, namun demikian, Indonesia memiliki kelebihan dari harga produk lebih murah. 

    Di sisi lain, berbagai kendala masih dirasakan baik oleh pembudidaya bandeng maupun pelaku pasarnya. Permasalahan oleh pembudidaya, seringkali dikeluhkan menurunnya kualitas benih sehingga pertumbuhannya lambat dan kontinyuitas pasokan benih disebabkan kurangnya jumlah benih yang diminta pada saat tertentu. Disamping itu, ketika pembudidaya akan meningkatkan teknologi budidayanya menjadi semi intensif atau intensif, maka kendala yang akan dihadapi yaitu kebutuhan modal untuk memenuhi kebutuhan pakan. Indonesia sampai saat ini menjadi pengekspor benih bandeng ke beberapa negara ASEAN. Sementara negara yang berhasil memasok bandeng konsumsinya baik segar maupun olahan yaitu Philipina, Taiwan dan China. Permasalahan masih rendahnya ekspor bandeng di Indonesia kemungkinan disebabkan masih minimnya informasi tentang pasar bandeng di luar negeri serta penyediaan bandeng yang diinginkan oleh pasar luar negeri belum sepenuhnya dapat dipenuhi. 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Putri, Y. H. (2014). STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR BANDENG. pengembangan pasar, bandeng, 93-104. 

Wulandari, R. D. (2010). Sikap konsumen pasar tradisional terhadap ikan bandeng segar. solo: Uiversitas Sebelas Maret.