PENGARUH INFLASI
TERHADAP HARGA KOMODITAS PERIKANAN DAN KELAUTAN DI INDONESIA
fadhil muhammad pujianto
PENDAHULUAN
Inflasi
merupakan salah satu indikator perekonomian yang penting dan menarik, laju
perubahannya selalu di upayakan rendah dan stabil agar tidak menimbulkan
penyakit makroekonomi yang nantinya akan memberikan dampak ketidakstabilan
dalam perekonomian. Inflasi yang tinggi dan tidak stabil merupakan cerminan
akan kecenderungan naiknya tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus
menerus selama periode waktu tertentu.
Setiap
negara pasti mengalami inflasi, inflasi yang terjadi dapat diakibatkan oleh
faktor yang berbeda-beda. Oleh karena itu pemerintah harus mampu mengendalikan
faktor-faktor penyebab inflasi tersebut. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan
inflasi diantaranya faktor nilai tukar Rupiah terhadap US$, pengeluaran
pemerintah dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Ferayanti,dkk, 2014).
PEMBAHASAN
Indonesia
merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia dengan jumlah
pulau sebanyak 17.504 buah dan panjang garis pantai mencapai 104.000 km. Total
luas laut Indonesia sekitar 3,544 juta km 2 atau sekitar 70% dari wilayah
Indonesia. Karena itu, sebagian besar penduduknya memenuhi kebutuhannya melalui
sektor perikanan, terutama masyarakat pesisir.
Letak
Indonesia yang sangat strategis dan
berada di jalur pertemuan dua samudra besar sehingga memiliki keanekaragaman
biota laut merupakan salah satu keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh
negara lain. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat menyumbangkan devisa negara dari sektor non
migas yang diarahkan pada pasar ekspor memiliki produk andalannya udang dan
ikan tuna. Sumber daya perikanan dan kelautan yang sangat besar dan permintaan
yang tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan kesempatan untuk
memperbaiki perekonomian negara.
Secara
ekonomi, perubahan harga dapat disebabkan oleh jumlah penawaran (supply) dan permintaan
(demand). Inflasi dari sisi permintaan (demand pull inflation) terjadi karena
kenaikan permintaan total (agregat demand) yang berlebihan sementara produksi
(supply) telah berada pada keadan kesempatan kerja yang penuh dan tidak mungkin
meningkat lagi sehingga penambahan permintaan hanya akan menyebabkan terjadinya
perubahan peningkatan harga.
"Komoditas
yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi yaitu ikan segar sebesar
0,08 persen," kata Suhariyanto di Jakarta.
Sebagaimana
diketahui, kelompok bahan makanan pada Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 0,88
persen, dan kelompok ini pada berkontribusi inflasi sebesar 0,19 persen.
Menurut dia, andil inflasi ikan segar antara lain karena pada periode tersebut
kerap terjadi di cuaca buruk di wilayah Indonesia timur sehingga banyak nelayan
tidak berani melaut sehingga terjadi kekurangan pasokan.
Sebagaimana
diwartakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengharapkan tingkat
konsumsi ikan di tengah masyarakat terus meningkat seiring dengan upaya
pemerintah meningkatkan hasil produksi perikanan Nusantara. "KKP
memproyeksikan tingkat konsumsi ikan masyarakat akan terus meningkat dari
sebelumnya 43 kg per kapita pada tahun 2017 dan diharapkan kembali meningkat
menjadi 46 kg pada tahun 2018 ini," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP
Slamet Soebjakto.
Menurut
Slamet Soebjakto, tingkat konsumsi ikan pada tahun 2019 diharapkan dapat
menjadi sebesar 54 kg per kapita per tahun. Dengan target tersebut, setidaknya
dibutuhkan suplai ikan sebanyak 14,6 juta ton pada tahun 2019, namun hanya 6,18
juta ton di antaranya yang diperkirakan berasal dari hasil perikanan tangkap,
sedangkan sisanya atau sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi
budidaya.
DAFTAR
PUSTAKA
Vinny Azaria, A. I. (2019, Maret). PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR RUPIAH,
DAN HARGA TERHADAP VOLUME EKSPOR INDONESIA KOMODITAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
MENURUT PROVINSI PERIODE TAHUN (2012-2014). MANAGERIAL ACCOUNTING, hal.
1-8.
Zuraya,
N. (2018, Juli 3). BPS: Ikan Segar Ikut Beri Andil Terhadap Inflasi.
Diambil kembali dari REPUBLIKA:
https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/18/07/02/pb8usv383-bps-ikan-segar-ikut-beri-andil-terhadap-inflasi