PERMINTAAN IKAN BANDENG SKALA INTERNASIONAL
(fadhil muhammad pujianto)
PENDAHULUAN
Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang memegang peranan sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia. Salah satu subsektor pertanian adalah subsektor perikanan. Subsektor perikanan juga merupakan sektor yang berpotensi untuk menghasilkan dan dikembangkan karena Indonesia merupakan negara maritim atau kelautan yang wilayah perairannya lebih luas daripada daratannya yaitu mencapai 5,8 juta Km2 atau mendekati 70% dari luas keseluruhan negara Indonesia (Terangi, 2010)
Bandeng (Chanos-chanos sp.) merupakan salah satu produk perikanan yang dihasilkan sebagian besar dari hasil budidaya. Sejak tahun 2010 dan sejalan dengan program industrialisasi yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bandeng termasuk komoditas prioritas pengembangan dan telah ditentukan lokasi-lokasi industrialisasi bandeng.
Ikan bandeng ( chanos chanos ) merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat penting. Ikan bandeng memiliki nilai protein hewani yang lebih tinggi di bandingkan dengan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Sebab, protein hewani mengandung asam-asam amino yang lengkap dan susunan asam aminonya mendekati asam amino yang ada dalam tubuh manusia (Wijayanti dkk 2016).
PEMBAHASAN
Bandeng (Chanos-chanos sp.) merupakan salah satu produk perikanan yang dihasilkan sebagian besar dari hasil budidaya. Sejak tahun 2010 dan sejalan dengan program industrialisasi yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bandeng termasuk komoditas prioritas pengembangan dan telah ditentukan lokasi-lokasi industrialisasi bandeng.
Potensi pasar luar negeri dapat di lihat pertama negara potensial pasar, kedua kriteria yang diminta pasar dan ketiga pesaing yang ada. Negara potensial pasar bandeng di luar negeri tersebar di Negara Rusia, Jepang, Singapura dan Timur Tengah. Kriteria ikan bandeng yang diekspor harus memiliki kriteria sisik bersih dan mengkilat, tidak berbau lumpur, kandungan asam lemak Omega-3 relatif tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak, dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food, dan ukurannya mencapai 600-800 g/ekor. Indonesia cukup berhasil dengan ekspor benih bandeng, sementara Taiwan dan China sukses dengan produksi olahan serta Philipina sebagai penghasil ikan bandeng segar dan olahan untuk pemenuhan pasar dalam negeri dan ekspor.
Namun demikian, sampai saat ini peluang pasar tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia karena berbagai kelemahan. Menurut Atjo dan Sahrun (2005), permasalahan tersebut karena belum terciptanya suatu sistem yang berorientasi agribisnis yang mampu menjamin keberlanjutan produksi mulai dari penyiapan benih dari panti benih, penggelondongan, pembesaran, panen, dan pemasaran sebagai upaya peningkatan efisiensi dalarn mengantisipasi pasar bebas. Pemenuhan benih yang bermutu, tepat waktu, jumlah, ukuran, harga, dan tempat belum terpenuhi akibat pantipanti benih tidak terdistribusi secara merata. Penataan ruang untuk budidaya laut belum dikelola secara baik dengan mengacu pada hasil kajian ilmiah yang kokoh dan profesional, ketersediaan informasi pasar yang belum akurat dan tepat waktu, khususnya untuk pasar domestik dan ekspor yang belum memadai. Yang tak kalah pentingnya yaitu kontinyuitas produksi, konsistensi mutu utamanya dalarn hal bobot, rasa, ukuran, dan penampilan fisik belum dipertahankan Pesaing pasar bandeng yang cukup kuat sampai saat ini yaitu negara Philipina, namun demikian, Indonesia memiliki kelebihan dari harga produk lebih murah.
Di sisi lain, berbagai kendala masih dirasakan baik oleh pembudidaya bandeng maupun pelaku pasarnya. Permasalahan oleh pembudidaya, seringkali dikeluhkan menurunnya kualitas benih sehingga pertumbuhannya lambat dan kontinyuitas pasokan benih disebabkan kurangnya jumlah benih yang diminta pada saat tertentu. Disamping itu, ketika pembudidaya akan meningkatkan teknologi budidayanya menjadi semi intensif atau intensif, maka kendala yang akan dihadapi yaitu kebutuhan modal untuk memenuhi kebutuhan pakan. Indonesia sampai saat ini menjadi pengekspor benih bandeng ke beberapa negara ASEAN. Sementara negara yang berhasil memasok bandeng konsumsinya baik segar maupun olahan yaitu Philipina, Taiwan dan China. Permasalahan masih rendahnya ekspor bandeng di Indonesia kemungkinan disebabkan masih minimnya informasi tentang pasar bandeng di luar negeri serta penyediaan bandeng yang diinginkan oleh pasar luar negeri belum sepenuhnya dapat dipenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Putri, Y. H. (2014). STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR BANDENG. pengembangan pasar, bandeng, 93-104.
Wulandari, R. D. (2010). Sikap konsumen pasar tradisional terhadap ikan bandeng segar. solo: Uiversitas Sebelas Maret.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar